Sabtu, 29 Oktober 2011

Bocah yang Jadi “Pahlawan Tsunami”



Hari itu, 29 September 2009, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Abby Witzler. Ia tengah berlibur di pantai Samoa, tepatnya di Desa Lalomanu, bersama kedua orang tuanya ketika tiba-tiba ia menyadari ada.. yang tak beres dengan air laut dimana puluhan orang tengah bercengkrama di tubir pantai. “Air itu tampak menyusut,” ujarnya.
Abby segera berlari ke arah pantai dan meneriakkan pada orang-orang untuk segera menyingkir ke tempat tinggi. “Gelombang tinggi sebentar lagi datang,” ia mengingatkan semua orang. Ia pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan kondisi seperti yang dilihatnya. Merasa tak digubris, ia berteriak keras, “Tsunami…tsunami!” Orang-orang pun menyingkir dan turut meneriakkan apa yang diteriakkan Abby.

Benar saja, selang beberapa menit kemudian, gelombang tinggi menerjang tanpa ampun. “Saya melihat air itu menabrak apa saja dan menghancurkan apa yang dilewatinya. Pepohonan bertumbangan dan tersapu ait yang merubah warga menjadi coklat,” ujarnya. Hari itu juga Samoa menjadi berita utama hampir semua media massa dunia: Ratusan tewas akibat hantaman tsunami di Pasifik. Gelombang tsunami itu datang setelah terjadi gempa besar berkekuatan 8 pada skala Ritcher, beberapa jam menjelang gempa bumi besar di Padang, Sumbar.
Atas jasa Abby, ratusan orang berhasil selamat bari amukan tsunami. Dan hari ini, Menteri Pertahanan Sipil Samoa mengganjar bocah yang masih duduk di sekolah dasar ini dengan sebuah piagam penghargaan dan medali tanda jasa sebagai “pengingat tsunami”.
Mengomentari penghargaan itu, ia berujar singkat, “Ah, saya pikir ini terlalu berlebihan.” Apa yang dilakukannya, kata dia, adalah refleks yang akan dilakukan siapa saja jika menyadari bakal ada bencana besar datang.

0 komentar:

Posting Komentar